Contoh Pantun Jenaka Dan Maknanya

Pengertian Pantun

Pantun adalah salah satu bentuk puisi lama yang berasal dari daerah Melayu. Pantun biasanya berisi kata-kata yang berima dan memiliki makna ganda. Di Indonesia, pantun biasanya digunakan sebagai sarana humor dan hiburan. Pantun bisa dibuat dalam berbagai jenis, salah satunya adalah pantun jenaka.

Pantun Jenaka

Pantun jenaka adalah pantun yang memiliki unsur humor dan lucu. Pantun jenaka biasanya dibuat untuk menghibur orang yang mendengarkan atau membaca pantun tersebut. Pantun jenaka juga bisa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan dengan cara yang santai dan tidak terlalu serius.

Contoh Pantun Jenaka

Berikut ini adalah beberapa contoh pantun jenaka beserta maknanya:

Contoh Pantun Jenaka 1

Budi bertanya pada Air
Kenapa kau mengalir terus?
Air menjawab dengan tenang
Kalau ku berhenti, kau pasti haus

Makna dari pantun ini adalah untuk menjelaskan bahwa air selalu mengalir karena itulah tugasnya. Jika air berhenti mengalir, maka orang yang membutuhkan air pasti akan merasa kehausan.

Contoh Pantun Jenaka 2

Ada seekor ayam jantan
Coba berkokok dengan hebat
Tapi sayangnya si ayam
Kalah sama suara kulkas yang berdesis

Pantun ini menggambarkan betapa suara kulkas yang berdesis bisa begitu mengganggu dan mengalahkan suara ayam yang berkokok dengan hebat. Pantun ini bisa dijadikan bahan candaan untuk membuat orang tertawa.

Contoh Pantun Jenaka 3

Aku mempunyai seekor kucing
Selalu dia meminta makan
Tapi sayangnya si kucing
Tidak suka makan ikan

Pantun ini menggambarkan betapa anehnya seekor kucing yang tidak suka makan ikan, padahal ikan adalah makanan yang seharusnya disukai oleh kucing. Pantun ini bisa dijadikan bahan candaan untuk menghibur orang yang mendengarkan.

Penutup

Itulah beberapa contoh pantun jenaka beserta maknanya. Pantun jenaka bisa dijadikan sebagai sarana untuk menghibur orang, sekaligus untuk menyampaikan pesan dengan cara yang santai dan tidak terlalu serius. Selain itu, pantun jenaka juga bisa menjadi salah satu budaya Indonesia yang patut untuk dilestarikan.

Baca juga:  Pantun Penutup Pidato: Simpel, Lucu, Dan Berkesan